Hal-hal yang Perlu Dihindari dari MBTI

Kelemahan yang sering kita alami ketika melakukan tes psikologi adalah kita merasa tes tersebut berhubungan 100 persen dengan diri kita sehingga kita selalu berusaha mengidentifikasikan diri dengan hasil tes yang ada.
Namun yang musti diingat seperti artikel pertama kami, manusia adalah identik dan tidak ada yang serupa satu dengan yang lain. Hasil tes hanyalah sedikit cermin dari sekian banyak aspek prilaku manusia. Serta hasil tes kepribadian sangat tergantung dari jawaban dan kondisi kita ketika melakukan jawaban pada tes.

Seseorang yang ketika tes”dicap” sebagai seseorang yang introvert, bisa saja memang demikian apabila berhubungan dengan orang banyak, namun disisi lain bisa berubah 180 derajat sangat ekstrovert ketika bercengkrama dengan teman-teman dekat (meskipun jumlahnya juga banyak). Hal tersebut juga ada dalam setiap kecenderungan-kecenderungan dalam aspek psikologi lainnya. Tidak ada yang 100 persen berkepribadian A sehingga tidak berkepribadian B.

Berikut beberapa hal yang harus kita hindari setelah melakukan tes psikologi (khususnya dalam series artikel ini untuk tes MBTI) yaitu :

1. Menjadi Alasan

“Saya tidak mau berhubungan dengan banyak pelanggan dan mengurusi banyak klien sebab saya orang introvert.”

Contoh di atas sebaiknya kita hindari karena sama saja Anda membatasi diri Anda sendiri. Hasil tes yang menunjukkan diri kita yang introvert bukan berarti kita membatasi diri, namun bagaimana kita mampu mengelola diri agar tetap tumbuh secara psikologis. Tidak ada satu orangpun yang 100 Persen aspek psikologis tertentu sedangkan aspek psikologis yang berdikotomi (berkebalikan) 0 Persen. Pasti ada fase dimana kita bertindak dan berprilaku A dan ada fase dimana kita bertindak dan berprilaku B

2. Labelling

“Dasar orang ekstrovert, sampai kapanpun kamu nggak tahu malu dan ngobrol ke sana ke mari dengan suara keras tentang aibmu sendiri”

Apakah setiap orang extrovert bangga dengan aibnya dimuka umum ? Saya rasa tidak demikian, karena setiap orang memiliki mekanismenya sendiri. Definisi ekstrovert juga buka berarti suka ngomong ceplas ceplos dan mengumbar-umbar demikian.

Apabila ditinjau dari ilmu prilaku orang yang suka berbicara mengenai aibnya sendiri, berarti memiliki luka di dalam. Terlepas dari ekstrovert ataupun introvernya seseorang, menceritakan adalah salah satu mekanismenya tubuh untuk mereduksi luka. Satu hal yang pasti ketika ada orang bercerita ke kita mengenai aibnya, berarti dia percaya bahwa kita adalah orang yang mau mendengarkan luka di dalamnya tersebut. Meski seseorang yang katanya introvertpun ada kalanya butuh cerita ke orang yang dianggapnya tepat. Jadi labeling seperti contoh diatas tentu sangat tidak tepat adanya.

Untuk sahabat-sahabatku yang super hatinya, tindakan menghakimi orang lain setelah mengetahui hasil tes kepribadiannya dan berusaha menghubung-hubungkan dengan prilakunya ( terutama yang buruk) adalah hal yang tidak tepat. Tes psikologi hanyalah cermin, dan semuanya kembali lagi ke orang pada saat melakukan tes.

3. Topeng Kepribadian

“Saya bingung. Mengapa di kantor saya cenderung A tetapi di rumah saya berubah menjadi B. Apa yang terjadi pada saya dan sebetulnya kecenderungan saya A atau B?”

Kepribadian kita punya dua lapisan : Asli dan Topeng. Tuntutan lingkungan atau pekerjaan sering membuat kita kemudian menggunakan topeng kepribadian.

“Apakah kepribadian asli kita bisa berubah menjadi kepribadian topeng kita?”

Mungkin saja, apalagi jika kepribadian topeng digunakan secara terus menerus dengan intensitas yang lebih banyak kemudian kita mulai lebih enjoy (menikmati/nyaman) dengan kepribadian topeng kita. bye the way kita dibentuk akan lingkungan dan menurut saya pribadi tidak ada kepribadian asli yang benar-benar murni. Meskipun secara genotif ada dari sel orang tua kita yang membawa gen prilaku, namun secara fenotif gen tersebut akan aktif lebih banyak dari interaksi kita dengan keluarga dan lingkungan yang membentuk kita (nb: ini menurut saya)

“Apakah dengan kepribadian topeng berarti kita membohongi diri sendiri dengan tidak menjadi diri sendiri?”

Kepribadian topeng tidak selalu lebih baik atau lebih buruk dari kepribadian asli kita. Semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Menggunakan topeng bukan berarti membohongi diri sendiri selama digunakan untuk tujuan positif. Sebab, membohongi diri itu adalah ketika kita tidak menerima diri kita apa adanya (menolak takdir). Namun ketika kita menggunakan topeng untuk lebih mudah beradaptasi atau lebih efektif dalam penyelesaian tugas tanpa harus menolak siapa diri kita yang sebenarnya maka itu tidak masalah.

Perlu kita cermati dengan cermat bahwa : Orang yang sehat secara mental adalah orang yang mampu menerima dirinya apa adanya serta takdir apapun yang menimpa dirinya.

SUMBER :

mbti.anthonykusuma.com

nafismudrika.wordpress.com/2011/02/18/membaca-kepribadian-menggunakan-tes-mbti-myer-briggs-type-indicator

Leave a Comment

Your email address will not be published.