Humanity is the disease, Inferno is the cure

Humanity is the disease, Inferno is the cure |

Bayangkan,
Jika anda lahir dalam kondisi yang begitu sulit. Moral masyarakat buruk, kesempatan bertemu orang bijak sulit, lingkungan keras, korupsi dalam sistem pemerintahan memang sudah mengakar.
Ditambah lagi, anda memang bukan orang yang terlahir dengan bakat, kecerdasan, ataupun kemampuan. Menghadapi dunia begitu sulit, apapun yang anda lakukan terasa gagal.
Parahnya, kemauan anda untuk berjuang juga lemah. Ditekan sedikit menyerah, dipengaruhi sedikit mau, gagal sedikit beralasan.

Alangkah bahagianya, ketika ada orang2 yang membantu anda, hanya karena memiliki latar belakang yang sama. Suatu aspek diri anda yang begitu mudah anda dapatkan, hanya perlu terlahir tanpa berjuang sedikitpun.
Inilah kesempatan anda, anda bisa memiliki label jabatan, anda bisa berkuasa, anda bisa sombong, anda bisa semena-mena. Segala kesempatan yang sejauh ini hanya dimiliki oleh orang2 berprestasi dengan bakat, kemampuan, atau perjuangannya.

Namun, ketahuilah bahwa itu bukan buah pikiran, perbuatan, maupun kerja keras anda pribadi. Hanya semata-mata lahir dengan itu, adalah alasan terlemah yang manusia bisa miliki dengan berlindung di balik kemalasannya.

Bagi anda yang membaca dan merasa senang atau tersindir, jangan merasa spesial. Saya menyindir semua orang.

Ini bukan pemikiran remeh temeh memihak satu dua kubu di lingkup sempit. Ini kritik atas mental manusia di berbagai tempat. Indonesia, Myanmar, Amerika, apapun tempatnya asal spesiesnya masih manusia dinamikanya akan tetap sama. Baik suku, ras maupun agama hanyalah media. Ketika seluruh manusia memiliki suku/ras/agama yang sama pun, manusia akan tetap menemukan cara untuk memanifestasi kebusukan dalam dirinya.

“Humanity is the disease, Inferno is the cure”
.
.
.
*lanjut main PES2017*

Image may contain: one or more people, meme and text

Leave a Comment

Your email address will not be published.