Membedah Faktor Eksistensi Usaha Warung makan selama 30 tahun dengan Facebook ads (bagian 2)

Artikel ini adalah artikel kedua, apabila anda belum membaca cerita awalnya silahkan klik disini.

Seperti yang telah saya bahas pada artikel pertama, kesimpulan yang saya ambil tentu saja masih terlalu dini untuk menjadi sebuah kesimpulan. Maka dari itu beberapa waktu kemarin saya sempatkan diri untuk melakukan observasi dan wawancara pada warung sahabat saya tersebut. Pada artikel, ini tentu saja saya tidak akan melampirkan cuplikan wawancara dan foto tempatnya (klue tempat masih sama seperti sebelumnya agar tetap rahasia ;p). Saya akan coba ulas hanya intiasari dari apa yang terjadi agar lebih enak dalam menceritakan. Sekali lagi tidak ada pakem teori yang digunakan dalam studi ini, jadi jangan berharap lebih hahaha.

Apabila pada artikel pertama saya sudah mendapatkan kesimpulan awal bahwa ada konsistensi dan ada dampak setelah diberikan sebuah stimulus iklan. Sekarang mari kita buktikan kesimpulan saya tersebut, teman-teman juga bisa ikut menyimpulkan karena tidak ada yang benar ataupun salah. Saya mengambil dua cara pengambilan data yaitu observasi dan wawancara. Ini mungkin iseng terniat yang pernah saya lakukan hahaha.

Observasi saya lakukan berjumlah lima kali di dua tempat, yaitu warung sahabat saya dan watung dari omnya dia. Oiya hampir terlewat omnya juga mejual makanan yang sama di sebuah daerah di Gianyar. Mengapa saya memilih dua tempat tersebut, karena sekalian saya ingin membandingkan rasa masakan dari keduanya. Biar lebih afdol dalam membandingkan rasa masakan, saya juga mengajak satu teman saya untuk ikut makan dia dua tempat tersebut. Ada beberapa hal yang coba saya observasi, saya mengambil dua hal yang paling banyak orang bahas pada iklan media facebook, yaitu tentang rasa masakan dan pelayanan.

Pada kesimpulan awal tentang rasa masakan, saya memiliki asumsi bahwa konsistensi adalah kunci untuk membuat rasa makanan yang nikmat dan dicintai oleh para pelanggan. Asumsi konsistensi ini saya ambil karena berpikiran tentang teman saya yang begitu menjaga kualitas dagingnya hingga tutup berminggu-minggu hanya karena tidak ingin mendapatkan daging yang berkualitas kurang baik. Hasil observasi awal pada dua tempat tersebut, ternyata rasanya sangat beda sekali, To be honest, jauh lebih enakan yang di Denpasar. Untuk memastikan sayapun bertanya pada teman saya dan hasilnya juga sama.

Ada sesuatu rasa yang berbeda pada bumbunya yang menyebabkan rasanya pun seperti berbeda. Bukan berarti tidak enak, hanya berbeda saja pada rasanya. Sayapun iseng bertanya ke sahabat saya kok bisa beda rasanya dengan warung di omnya. Ternyata ketika saya bertanya dia bercerita bahwa resep yang omnya pergunakan adalah sama, pakemnya sama, cara masaknya sama sampai bumbu-bumbunya pun juga sama. Hal yang menjadi mengelitik adalah dengan cara yang sama bahkan hingga ke resep yang sudah menjadi pakem bertahun-tahun, rasa yang ditampilkan bisa sangat berbeda seperti ini. Berbeda ya bukan berarti tidak enak.

Awalnya saya pikir, wah pasti karena bahannya seperti hipotesa saya. Kemudian saya merenung pada kehidupan saya saat ini. Mungkin kehidupan tak jauh berbeda dengan makanan. Bukan hanya sekedar meniru proses namun juga ada sesuatu yang hakiki bahan yang ada di dalam diri tapi Rasa yang berbeda ini mungkin adalah sesuatu yang lebih dalam.

Saya merenung dan mengingat pengalaman saya sendiri. Sering kali saya mencoba menjadi orang lain, mengikuti cara orang lain, hingga meniru gaya hidupnya namun tak jarang nasib saya tidak sama sekali berubah sama seperti orang yang saya tiru. Lalu saya merenung mungkin dasarnya bukan pada cara mengolahnya saja yang perlu saya tiru, tapi juga pada sesuatu “bahan” yang ada di dalam.

Entah kenapa pikiran ini tiba-tiba muncul pada benak saya, sayapun kemudian iseng bertanya tentang bagaimana tentang cara mengelolanya. Jawaban yang cukup unik saya dapatkan dari teman saya, ternyata cara mengelola makanan yang dia buat sangat sederhana. Bahkan jawabannya sangat spirtual sekali sebenarnya hahaha.

Setiap makanan yang dia olah diproses pada tingkat kematangan yang pas. nasinya diaduk pelan-pelan tapi sering sambil dimasukkan bumbu. Menurut saya perlu ketelatenan untuk melakukan aktifitas mengaduk yang berjam-jam. Lauknya pun dimasak hingga kematangan yang sangat pas sehingga bisa diolah hingga 2 hari. Sambelnya juga dalam pengolahan sangat spesial, sambelnya tidak langsung diwadahkan ketika matang namun ditunggu hingga dingin. Sambelnya menurut saya adalah satu bagian yang emang juara sekali rasanya.

Semua bahan saya simpulkan adalah bahan yang terbaik, dia beli di suplier daging yang sudah menjadi langganannya bertahun-tahun dan dijamin halal setiap prosesnya. Saya sampai mencatat nama dagangnya dan memang sangat terbukti kehalalannya.

Terlepas dari bahan dan proses, ada satu hal yang benar-benar membuat saya terketuk. Sedekah, yup itulah yang dia bilang waktu ibadah bareng dengan saya. Saya apabila ibadah, paling banter sedekah patimura tapi kalau dia selalu satu tingkat warnanya. Saya jadi ingat ceritanya kala kecil dahulu ketika ibadah dengannya, ibunya meminta dia untuk memasukan sedekah di dalam kotak amal. kata-katanya kurang lebih seperti ini “bersyukur dengan memberi dulu, nanti tuhan yang ngasi rejeki lebih ke warung”… jleeebb..

Lalu pada aspek kedua yaitu pelayanan, hasil observasi saya menunjukkan sesuatu yang dalam sekali. Selalu tersenyum dan bersikap ramah, (walau ke saya enggak hahaha ). Itu hal yang benar-benar jlebb saya lihat dari beberapa jam saya disana. Hingga jam 11 keluarganya ketika menjualkan selalu saya lihat berusaha untuk ramah dan tersenyum. begitu juga di cabang omnya di Gianyar (btw yang di gianyar juga ramai).

Pola ramai tempatnya juga unik, jam sembilan hingga jam sepuluh adalah puncak keramaian. Pada jam tersebut sering kali sangat ramai. Apabila saya jadi sahabat saya, saya pasti takut mendahulukan yang mana karena pastinya kala ramai sangat tidak fokus. Hal beda ini saya lihat dari warung sahabat saya ini, dia selalu berusaha untuk tenang dan senyum. Tidak enggan untuk bertanya dan meminta maaf ketika salah. Dia hobi sekali salah hitung sebenarnya, beberapa kali hingga mengeluarkan hp. satu hal yang jleeb banget kemarin waktu observasi adalah ketika ada kursi yang goyang. Warungnya sangat antisipatif sekali dan mengantinya dengan kursi yang baru. Hal sederhana namun sangat dalam menurut saya pribadi, sangat membuat nyaman pelanggan. Yang unik lainnya saya liat adalah pelanggan tidak jarang hingga curhat untuk sekedar bercerita ngalor ngidul disini. Dan kemudian saya berkaca, sayapun demikian (pada artikel 1 saya bercerita bahwa kesana hanya untuk ngobrol bola hahaha)

Lalu apakah kesimpulannya? Kesimpulannya tidak ada karena semuanya benar adanya,

yang penting menurut saya adalah pemaknaannya, yang bisa saya pelajari dari sana. Dari sebuah warung kecil dipinggiran Kota Denpasar.  Warung ini sama sekali tidak sempurna, pemilikinya pun sama sekali tidak sempurna. Ada banyak hal pribadi yang dulu juga sempat membuat saya berantem dengan dia. Begitu juga saya yang membuat artikel ini. Ini hanyalah soal pemaknaan bukan kesimpulan.

Saya mungkin bisa meniru resep masakannya dan membuat warung yang sama di tempat lain. Tapi dari rasa dan ramainya pastinya akan jauh berbeda. Sebuah pembelajaran berharga untuk saya pribadi dari studi bagian kedua ini adalah tentang “bahan”, prilaku dan sikap mental kita yang ada di dalam. Ini mungkin pemahaman prematur versi 2 ala saya. Mungkin salah mungkin benar terserah anda yang menilai.

Yang pasti saya sangat belajar dari sahabat saya tersebut, sikap mentalnya begitu luar biasa. Sikap mental yang sering saya lupakan ketika saya membuat usaha. Cuma meniru caranya tidak akan membuat kita langsung menjadi seperti dirinya. Begitu juga dalam Facebook ads yang sedang saya selami saat ini. Saya baru ngeh ketika membuat iklan ini, feel ketika memasang iklan mungkin adalah yang sering kali dilupakan. Caranya sih tinggal kita tiru-tiru saja bisa dari orang lain namun sikap mentalnya?

Sikap mental saya ketika membuat winning campain ini entah kenapa saya yakin sekali bahwa ini berhasil. Niat saya awalnya hanya ingin membantu promosi, terlepas dari sama sekali dari keinginan terikat dalam keuntungan. Beda sekali dengan ads yang gagal saya buat, selalu di dalami oleh rasa ketakutan apabila gagal. Lalu pagi ini ketika saya mengetik artikel ini, saya iseng membuka facebook-facebook mastah dan artikel pada webnya. Hmm mungkin ini bisa menjadi studi lanjutan saya, dasar dalam beriklan selalu berulang kali diucapkan. Contohnya artikel mas Army Algifari, untuk anda yang sedang belajar facebook belum hatam kalau belum kenal beliau lah dengan gengnya om Eka Bagus Nurdiasyah Pamungkas. Logika yang dia selalu berusaha dia bangun dalam setiap artikelnya adalah sikap mental akan sebuah kesuksesan. Bayangkan ada 1 artikel tentang rugi 50 juta, namun dengan pemaknaan yang dalam hal itu justru menjadi bahan ajar tentang inshigt targeting audien.

saya sejuta saja mikir-mikirnya berkali2 hahaha,

saya masih si cupu yang sedang belajar…  dan akan selalu belajar..

so jadi….kesimpulannya ehh salah..saya tidak lagi untuk menyimpulkan. Cukup Pemahamannya saja. Saya ulang dari artikel pertama yaitu :

Branding bukan hanya sekedar nilai yang kita coba bentuk agar orang lain melihat nilai dari kita, tapi juga nilai apa yang kita bentuk di dalam diri kita. Karena nilai itu memancar keluar, dan menjadi magnet bagi semesta untuk merangkul realita yang kita inginkan…ituuuh 🙂

Leave a Comment