Pengalaman Bersahabat dengan Kawan-kawan Mantan Pengguna Narkoba (bagian 1)

Hari ini 23 Januari 2013, saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa, sebuah pengalaman yang mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya, bertemu dengan teman-teman baru yang sangat jauh dari perkiraan awalnya. Pikiran saya sempat kemana-mana, tatapan orang-orang disana membuat diri seolah terasa asing. Apalagi ketika seorang dokter bertanya tentang apa yang diketahui tentang pengguna narkoba. Tidak ada jawaban yang terucap hanya anggukan kecil sebagai pertanda kami siap untuk berbagi sesuatu disini meskipun di dalam hati sebenarnya masih bingung dengan apa yang kami akan lakukan

Saya disini tidak sendiri, saya bersama sahabat-sahabat saya sedang melakukan sesuatu penelitian tentang sebuah terapi psikologi kepada mantan pengguna narkoba. Kami akan melakukan penelitian ini di sebuah tempat di rumah sakit di sebuah tempat di indonesia. Methadone untuk anda yang belum tau adalah zat yang merupakan substitusi dari heroin yang digunakan sebagai media rehabilitasi bagi para pemakai narkoba untuk perlahan-lahan lepas dari ketergantungan obat melalui penurunan dosis (ingatkan saya jika ini salah, saya hanya menangkap yang dijelaskan).

Hari ini saya pribadi mendapatkan pengalaman berharga bagi hidup saya. 23 januari inilah, kami pertama kali memulai petualan seru kami berkenalan dengan banyak hal baru termasuk dengan teman–teman baru kami, teman-teman yang kebetulan sedang menjalani perjalanan hidup dengan adiksi narkotika di rumah sakit sanglah.  Awalnya masih terasa cangung untuk berkenalan, pikiran saya terasa terombang-ambing. Pikiran-pikiran negatif kian silih berganti muncil tentang asumsi-asumsi orang yang menggunakan narkoba.

Ketakutan itu kemudian sirna ketika saya mulai mencoba berkenalan. Ternyata tidak ada yang beda dan pikiran saya saja yang terlalu lebay. semua berjalan dengan normal sama halnya saya berkenalan dengan siapa saja. Kamipun berkenalan dan saling bercerita banyak hal, dari hal-hal yang umum hingga tentang perjalanan kehidupan yang mengharuskan teman kami menjalani jalan di pusat rehabilitasi ini. Semua mengalir indah dalam setiap ceritanya, dan penuh candaan. walaupun penuh tato tidak jarang muncul cerita-cerita yang membuat terenyuh dan bercanda riang

Dibalik perjalanan hidup yang sedang dijalani saat ini keriangan itu masih sangat terpancar. Tidak jarang terlihat juga saling menguatkan. Berbagi roti dan kopi seperti suatu rutinitas di tempat ini sembari bercengkarama setelah meminum obat dari rumah sakit. Saya semakin yakin bahwa benar adanya Kita tidak pernah kesepian ketika melihat senyum tuhan ada disekitar kita.

Sebuah renungan besarpun muncul dari sana mengingatkan cerminan dari kehidupan saya pribadi ?

Jika narkoba adalah zat luar yang memberikan efek kecanduan, bagaimana zat yang ada di dalam seperti pikiran negatif saya tadi kepada mereka?

tanpa disadari saya kemudia bercermin..wah sangat banyak sekali kecanduan saya

saya kecanduan sering berprasangka negatif? kecanduan resah dan gelisah? anda mungkin pernah merasakn hal yang sama juga kah ? kata teori psikologi yang pernah saya baca sih demikian, 70% kita dalam sehari adalah pikiran negatif yang membuat tidak berdaya.

Padahal sudah tau asumsi itu salah, pikiran negatif itu belum tentu membuat berdaya, tapi mengapa sering saya pribadi lakukan ya

Ini adalah renungan dari diri saya pribadi yang mungkin akan beda penafsiran dengan anda. Ini hanya perenungan pribadi bukan dari kata guru ataupun teori jadi jangan diminta sumbernya.

Setelah merenung hal tersebut, pikiran saya seolah-olah terbang kemudian pada sebuah film bernama petualangan sherina. Tidak tau kenapa lagu ini terngiang-ngiang di telingga kala itu. Kalau teman-teman yang hidup ditahun 90an tentu tau film ini. Dalam film tersebut ada sebuah lagu berjudul lihatlah lebih dekat.

begini liriknya kurang  lebih

pergilah sedih

pergilah resah

jauhkanlah aku dari salah prasangka, pergilah gundah

jauhkan resah

lihatlah segalanya lebih dekat dan ku bisa menilai lebih bijaksanaaaa

Saya menjadikan pengalaman ini menjadi cermin untuk diru saya sendiri. Seperti yang saya ceritakan diawal keinginan menilai orang baik dan buruk dan pikiran negatif akan keadaan begitu besar diawal memulai. Malah saya kemudian mengingat dalam hidup ini, saya lebih sering sibuk menilai orang lain sampai kemudian lupa bercermin. bercermin pada menyadari kecanduan yang ada pada diri saya sendiri. Lupa untuk melihat segalanya lebih dekat.

Saya merenung mungkin saya juga tidak jauh berbeda dengan teman-teman methadone tersebut. saya juga sedang menjalani terapi kecanduan dalam hidup, tapi bedanya sudah tau dan sedang sedang berobat untuk lepas. Sementara saya baru saat ini menyadari dan akan berobat hahaha

Kerap kali saya melihat orang-orang pecandu narkoba sangat dipandang sebelah mata atau bahkan kadang tidak dianggap. Hasil-hasil ngobrol saat itu dengan merekapun menunjukkan hal yang tidak jauh berbeda. Banyak yang tidak memiliki percaya diri lagi untuk hidup dengan masyarakat dan kerap kali ditinggalkan oleh orang-orang yang mereka sayangi ketika melewati proses kehidupan ini. Tapi bukan berarti tidak ada orang keren yang saya temui disini. Banyak pula orang dengan pemaknaan hidup dan keahlian yang hebat saya temui disini. Ada pak I dan pak L misalnya, mereka kebetulan dapat saya wawancarai hati kehati, dalam series selanjutnya akan coba saya ceritakan. Sekarang beliau sudah almarhum tapi saya belajar banyak hal dari mereka. Btw kabar baiknya adalah mereka sukses telah melewati masa rehabilitasi sebelum kemudian meninggal.

Pak I adalah seorang mantan pengusaha yang kemudian salah jalan menjadi pengguna akibat dibohongi temannya. Selama masa rehabilitasi mungkin bapak ini adalah bapak paling religius lah. Setiap denger azan dia pasti dengan semangat untuk segera berangkat wudhu dan solah. Membekas banget dalam diri saya, yang masih sering melupakan tuhan. Pak L adalah guide yang ahli beberapa bahasa, sempat belajar bahasa juga sama beliau. Selalu riang dan bercanda ketika di rumah sakit meski sering hidup dengan keterbatasan. Saya lihat sendiri kamarnya hanya ada bantal saja, sebuah kamar kecil yang diisi berdua. Yang kerennya beliau sebelum meninggal terus telaten melakukan yang kita sharingkan. Terakhir bertemu sebelum meninggal beliau sempat bercerita sudah tidak merokok lagi saat itu.  (nantikan kisah personal mereka diseries selanjutnya)

Mereka mungkin sempat memilih jalan yang salah, jalan mencari bahagia dengan zat zat diluar tubuh yang malah membuat mereka ketergantungan. Begitu juga kita, mungkin pernah melakukan hal yang sama atau bahkan tanpa disadari sumbernya itu ada di gejolak penderitaan di dalam diri. Terjerumus dijalan yang salah setelah patah hati, setelah salah pergaulan, setelah merasa kesepian adalah satu dari sedikit alasan yang muncul dari wawancara singkat saya dengan sahabat saya disini.

apakah mungkin kodratnya manusia untuk berkutat dengan penderitaan ? ntahah satu yang pasti saat ini saya mulai menyadari saya kurang melihat kedalam dan kurang menyadari perasaan non berdaya yang ada di dalam dan justru sering mengulangnya terus menerus

Jika ada orang berbicara tidak ada manusia yang sempurna, kalau saya mungkin terbalik. Sahabat saya yang tuna wicara yang mengatakan demikian kita ini sempurna apa adanya. Kita lahir sangat sempurnanya bahkan dengan ketidaksempurnaan kita itulah tanda tuhan mencintai kita dengan sempurna.

pemaknaannya hari ini adalah sampai pada level menyadari, setiap peristiwa hidup disadari bahwa ada unsur “kita” sebagai pemegang tonggak diri yang memiliki kewajiban untuk memilih menderita atau bahagia. Untuk memilih berpagar pikiran non berdaya atau berpikiran positif.

Mungkin benar kata teman saya tadi, semua orang adalah makhluk sempurna
karena pilihan untuk bertindak dan bersikap baik dan buruk tuhan berikan pada kita langsung
tugas “kita” adalah rajin-rajin bercermin, karena realitas pengalaman hidup yang “kita” jalani adalah cerminan dari diri “kita”. Prilaku yang kita lakukan adalah cerminan diri kita di dalam.
Kalau kata bapak sahabat saya yang sangat spiritual, berpikir harmonis berjiwa besar

Bersambung..

NB : ini adalah catatan perjalanan pribadi dari salah satu penulis di balimentari, terdiri atas pengalaman dan pemaknaan pribadi. Ada 10 series perjalanan tentang narkoba termasuk wawancara dan observasi yang akan dijabarkan dalam bentuk cerita. Tidak ada teori yang digunakan dalam tulisan-tulisan ini. semua adalah pemaknaan pribadi. Wawancara dan nama tempat sengaja dirahasiakan untuk menjaga identitas. Tribute alm MR L , MR S and MR M

Penggunaan kata “kita” bukan berarti merepesentasikan anda, hanya pemaknaan dari wawancara kehidupan yang penulis maknai pribadi sebagai kita.

Cover artikel ini tidak ada hubungan dengan tulisan ini, hasil mengambil dari library penyimpanan web saja 🙂

Leave a Comment