Pola Kematian Orangtua pada Usia Muda? Sedikit kah ?

Jika membaca judul artikel ini jawabannya tentu antara antara dua sedikit atau tidak sedikit. Tentu keduanya memiliki implikasi tersendiri terutama jika kamu ingin melakukan studi mendalam tentang sesuatu yang bersifat kasusistik ataupun sesuatu yang membutuhkan generalisasi data statistik. Inilah pembelajaran yang saya pribadi dapatkan dari Ibu Kharisma. pembelajaran yang begitu mahal, berharga dan menguras energy. Saya akan membagi dua pola yang saya dapatkan selama hidup ini tentang hal tersebut. pertama dari pola statistik kedua dari pola pengamatan.

Pola statistik berarti berhubungan dengan pencatatan ilmiah data kependudukan, bila demikian maka ada dua tempat yang hendak di kunjungi mengenai fenomena kematian pada usia muda. Pertama Badan Pusat Statistik dan Catatan Sipil. Alasan Badap Pusat Statistik tentu jelas, siapa lagi yang mempunyai data kependudukan terlengkap selain Badan Pusat Statistik. Semua data ada disana, mulai dari data kelahiran anak, penghasilan, hingga riwayat sakit pada rumah sakit tercatat secara spesifik. Untuk pola kematian sayangnya pola kematian pada usia muda tidak tercatat, angka kematian yang terpampang adalah mengenai kematian pada ibu dan anak serta angka usia harapan hidup. Tidak ada pencatatan secara pasti kematian pada rentang usai tertentu. Satu hal yang pasti angka usia harapan hidup masyarakat indonesia adalah 71 tahun yang berarti 71 tahun adalah usia rata-rata kematian rata-rata masyarakat di Indoensia. Bali sendiri berada dalam angka 68 tahun. Saya tidak tau apa maksud diagram perbandingan ini, setidaknya penjelasan medis setelahnya menunjukkan bahwa semakin tinggi angka harapan hidup suatu bangsa maka kemampuan dalam mengelola sakit dan tindakan medis suatu bangsa meningkat

Lalu berangkatlah saya beberapa hari kemudian ke Catatan Sipil Denpasar, mengapa catatan sipil mungkin kami bertanya. karena catatan sipil mencatat angka pernikahan, demografi dan aja juga tentang peceraian. Logikanya mungkin saja angka perceraian ini akan menunjukkan jumlah kematian pada usia muda. oiya btw kematian yang menyebabkan perpisahan antara pasangan hidup disebut cerai mati sedangkan perceraian karena putusan pengadilan disebut cerai hidup. Cerai mati ditandai dengan akta kematian, (sekilas informasi dari brosur yang saya dapatkan digeduk sewada dharga. Ada uang kerohiman, sehingga apabila ada kenalan yang kebetulan mengalami musibah tersebut mungkin hal tersebut bisa sedikit membantu)

angka kematian juga tidak menampakkan hidungnya, kalaupun ada lebih kepada jumlah total kematian. begitu juga wisatawan asing yang berkunjung ke denpasar, tidak ada berdasarkan jenjang usia. satu data yang mungkin membantu adalah data mengenai jumlah penduduk di kota denpasar. Data ini di dapatkan dalam buku catatan sipil di gedung sewaka dharma lantai dua. Data jumlah pendudukan tersebut menggambarkan bahwa rentang yang memiliki jumlah paling besar adalah usia dewasa awal.  Usia dewasa awal adalah rentang usia antara 20-40 tahun berdasarkan teori perkembangan. Hal ini selaras juga dengan sambutan yang pernah bapak walikota denpasar sampaikan dalam acara gerakan 1000 start up, tentang seberapa penting teknologi di tengah jumlah peningkatan penduduk di usia muda yang mengharuskna melek teknologi.

Data selanjutnya yang coba saya telusuri adalah data pengamatan. Pengamatan yang saya maksudkan disini adalah pengamatan yang menggunakan pendekatan kualitatif yaitu pengambilan data menggunakan wawancara dan observasi. Jika kita berbicara tentang individu dalam jumlah yang banyak dan memiliki demografi yang beragam maka ada beberapa kemungkinan yang dapat diambil. Pengamatan yang saya lakukan pada sebuah unit kelurahan perkotaan ataupun perdesaan setidaknya memiliki beberapa perangkat penunjang oprasional. Setiap desa atau kota biasanya akan memiliki satu unit kantor desa, beberapa buat banjar atau rt/rw, puskesmas, unit perkreditan koperasi simpan pinjam, dan beberapa sekolah dengan jenjang tingkatan tertentu

Satu tempat yang menurut saya memiliki demografi penduduk yang beragam adalah sekolah. Sekali lagi karena bukan data kuantitaf yang bersifat generalisir dan bukan dalam rangka menyimpulkan. Kemudahan dalam akses merupakan alasan memilih sekolah sebagai tempat pengambilan tempat pengamatan. Sekolah yang pada kesempatan ini saya lakukan pengamatan diantaranya adalah Sekolah dasar no 5 ubung. Alasan mengambil tempat tersebut sebagai pusat studi lebih dikarenakan ibu saya kebetulan mengajar disana sehingga lebih mudah memiliki akses untuk masuk dan bertanya-tanya. Selain itu, Ubung merupakan salah satu tempat dengan demografi penduduk yang sangat beragam. Selain penduduk asli ubung, pada daerah ubung juga memiliki beberapa tempat seperti kampung islami yang berdsarkan keteran ibu siti (Guru agama islam) penyebaran penduduk di kampus muslimnya sangat beragam, bukan dari jawa saja. Sekolah dasar juga dipilih karena estimasi perhitungan apabila kematian berada pada usai muda naka kemungkinan anak masih berada pada sekolah dasar.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa dalam sekolah pada dasarnya tidak memiliki data secara pasti dan rinci mengenai jumlah orangtua siswa yang memiliki orangtua yang telah meninggal. Wawancara pada guru juga menunjukkan hal yang tidak jauh berbeda. Semuanya berdasarkan ingatan semata.  Pada kurikulum ini, ada keharusan untuk gutu dan orangtua untuk saling kontak apabila ada masalah tertentu pada anak. Hasil wawancara menunjukkan bahwa ada dua siswa yang mengalami peristiwa tersebut. Agus J, seorarang siswa ibu tunggal karena meninggal. Prakiraan usia ibu berada pada usai 40 tahun keatas.hak ini berdasarkan keterangan Ibu Luh Mulyati sebagai wali guru kelas tiga. Agus memiliki dau orang kakak yang telah berusia dewasa.

Satu siswa lain bernama murtini, anak kedua yang kakaknya dahulu juga bersekolah pada sekoalh Dasar negeri 5 Ubung ini.  Ibunya adalah seorang mualaf, dan ayahnya meninggal dunia. Prakiraan orangtuanya berada pada jenjang usia 40 tahun keatas. Hal ini berdasarkan penuturan dari Ibu Ni Nyoman Sriasih sebagai Wali kelas empat sekolah dasar.

Dua data penggalian data secara statisitk dan pengamatan lapangan tidak menunjukkan data secara spesifik pengenai kematian pada usia muda. Satu yang pasti secara fakta de jure dan de facto jumlahnya lebih sedikit. Saya pun kemudian mengingat kembali perjalanan saya dari hidup. Saya rasa fenomena tersebut memanglah sedikit. Saat Sd di sekolah dasar saya sama sekali tidak mendapati ada teman ataupun sekolah mengabarkan berita duka cita akibat kematian. Apabila keguguran dapat dikatakan sebagai kematian, maka saya pernah melihat satu yaitu guru Sekolah di seberang sekolah saya (sebelum sekolah digabung, sekolah satu pekarangan memiliki dua nama sekolah).

Ketika SMP saya menemui empat fenomena tersebut yang dialami teman saya. Yang pertama bernama W**a,  ayahnya yang bekerja di kawasan nusa dua hotel meninggal. Dia dibesarkan oleh ibu dan kakeknya dengan dua adik. Seingat saya kematian orangtuanya terjadi pada usia muda karena asumsi usia dia dan adiknya saat itu masih kelas strata satu SMP. dan yang paling kecil masih taman kanak-kanak Tapi tidak ada data yang bisa menjelaskan hal tersebut karena ini hanya berdasarkan data ingatan. Yang kedua D**i, saya tidak terlalu mengenalnya hanya saja sekolah sempat mengumumkan kematian ayahnya. Ketiga bernama Sista, ibunya yang bekerja di hotel telah meninggal dan seingat saya ayahnya telah menikah lagi. yang keempat adalah saya, ketika kelas satu SMP orangtua saya meninggal

Ketika SMA, untuk teman sekelas seingat saya fenomena ini tidak ada terjadi, adik kelas dan kakak kelas ada. Karena berfokus pada usia muda maka jika anak berusia pada usia SMA dan setelahnya seharunya usia orangtua sudah dewasa madya atau minikah pada usia sangat belia. Karena SMA kelas satu minmal berusia 15 tahun yang berarti ada minimal 15 tahun menikah yang telah dilakukan

Ketika Kuliah ada dua teman seingat saya mengalamihal tersebut, yang pertama adalah B dan D. Saya menggunakan pada orang-orang yang saya ingat ini karena saya belum meminta izin untuk dicantumlkan dalam artikel. D seingat saya orangtuanya berada pada usai akhir karena berdasarkan jabatan ayahnya yang sudah pensiun dari sebuha kesatuan tertentu. B ayahnya meninggal kecelakaan akibat ditabrak orang dengan kandungan alkohol pada usia dewssa madya sehabis pulang dari kantor.

Hal yang mungkin dapat dirangkum dalam fenomena sedikitnya temuan dalam kematian usia dewasa muda (awal) yang saya temui langsung di masyarakat baik berdasarkan data statistik maupun data pengamatan dapat dirangkum bahwa kematian pada usia dewasa lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan perempuan. Hanya terdapat satu yang laki-laki menjadi orangtua tunggal bagi anak sisana perempuan. Satu yang unik lainnya adalah perempuan tidak ada yang memilih untuk menikah kemabali.

Data ini tentu tidak dapat dikatan sebagai kesimpulan, ini hanyalah data yang di dapatkan dari lapangan. kesimpulannya adalah rangkuman singkat bahwa studi ini akan berlanjut setidaknya memberikan sedikit bukti ditengah sedikitnya data yang mampu menunjukan bahwa kematian pada usia dewasa muda lebih sedikit. Selanjutnya kita akan mencoba memahami fenomena ini dari teori psikologi yang ada dan bagaimana studi lanjutan mengenai keberadaan pola kematian usia dewasa awal.

Leave a Comment

Your email address will not be published.