Sejarah Psikologi Menjadi Keilmuan (Bagian 2)

Setelah melewati fase penuh filsuf dan ilmu filsafat. Eropa mengalami masa revolusi ilmu pengetahuan, terjadi pergoncangan yang sangat hebat antara agama dan ilmu pengetahuan. Masa-masa ini disebut dengan masa peralihan atau Renesance. Beberapa tokoh ahli dengan pemaparan mengenai gangguan jiwa muncul pada era ini, diantaranya adalah :

• Rene Descartes (1596-1650), seorang filsuf dari Perancis mencetuskan definisi bahwa ilmu jiwa (psikologi) adalah ilmu tentang kesadaran (rasio). Ia mengemukakan mottonya yang terkenal “cognito ergo sum” (saya berpikir maka saya ada), karena menurutnya segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang dapat dipastikannya, kecuali pikirannya sendiri.

• George Berkeley (1658-1753), seorang filsuf Inggris, mengemukakan bahwa yang terpenting adalah penginderaan, bukan kesadaran atau rasio. Menurutnya, segala sesuatu berasal dari penginderaan, rasio hanya mengikuti apa yang diserap oleh penginderaan. Oleh karena itu, dalam pandangan Berkeley, psikologi adalah ilmu tentang penginderaan (persepsi).

Lalu selama fase masa perkembangan Renaisans terjadi banyak perubahan-perubahan paradigma cara berpikir. Salah satunya ketika keilmuan mengenai Faal dan Psikologi dimulai. Para ahli ilmu Faal (Fisiologi), khususnya para dokter mulai tertarik pada masalah-masalah kejiwaan. Era ini sering dikenal dengan istilah pasca renaisans. Pada saat itu, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan di negara-negara Eropa, khususnya di bidang Fisika (ilmu alam) dan Biologi, para ahli ilmu Faal berpendapat bahwa jiwa erat sekali kaitannya dengan susunan syaraf dan refleks-refleks. Tokoh-tokoh tersebut diantaranya :

• Sir Charles Bell (1774-1842) seorang ahli bedah, ahli anatomi dan ilmu faal dari Inggris dan Francois Megendie (1783-1885) seorang ilmuwan Perancis, menemukan syarafsyaraf sensorik (penginderaan) dan syaraf-syaraf motorik (yang mempengaruhi gerak dan kelenjar-kelenjar).

• Paul Broca (1824-1880) seorang dokter Jerman, menemukan pusat bicara di otak yang kemudian diberi nama Pusat Broca. Apabila terjadi gangguan di Pusat Broca ini, maka orang tidak bisa berbicara, dan disebut menderita aphasia.

• Marshal Hall (1790-1857) seorang dokter dari Inggris, menemukan mekanisme dari refleks (gerak refleks). •

Ivan Pavlov (1849-1936) seorang ilmuwan Faal dari Rusia, mendefinisikan psikologi sebagai ilmu tentang refleks dan karena itu psikologi tidak berbeda dengan ilmu Faal. Setelah penemuan-penemuan dari para ahli di atas, maka muncullah definisi-definisi tentang psikologi yang mengaitkan psikologi dengan tingkah laku dan selanjutnya mengaitkan tingkah laku dengan refleks.

Leave a Comment