Seri Resiliensi- Beradaptasi dan tumbuh dengan lingkungan ?

Semenjak kecil beradaptasi saya rasa adalah hal yang biasa kita dengar. Seingat saya kada ini sering muncul di pelajaran biologi, adaptasi adalah penyesuaian diri individu dengan lingkungannya. Secara teori biologi adaptasi ada dua yaitu adaptasi genesis dan adaptasi somatis. Genesis yang berasal dari kata gen memiliki makna sebuah penyesuaian gen tubuh dengan lingkungannya. Mungkin pernah dengar kisah paruh burung finch atau teori evolusi darwin yang menyatakan manusia berasal dari evolusi kera cerdas. Somatis adalah perubahan penyesuaian pada struktur dan fungsi dari sebuah organ. Jika dulu jari mungkin belum pernah digunakan untuk mengetik, secara beradaptasi dapat untuk mengetik (kenapa mungkin ? karena saya tidak hidup di masa itu hahaa). Secara singkat maka dapat dirangkum bahwa perubahan genesis melibatkan perubahan yang terjadi pada organ sedangkan somatis adalah pada fungsi organ

Saya tidak tau bila anda, bila saya pribadi banyak sekali perubahan peradaptasian selama hidup di dunia ini. Peruaban genesis yang sekiranya saya tau dari perlajaran biologi adalah perubahan pada pertumbuhan dan perkembangan organ tubuh. Pola hidup adalah yang saya rasa sangat berpengaruh pada pola ini (perubahan gen secara spesifik tidak saya ketahui), karena berdasarkan teori pertumbuhan contoh saja berat badan sangat dipengaruhi sekali dengan pola hidup. seseorang bisa gemuk karena lebih banyak asupan energi yang masuk, begitu juga sebaliknya menjawab pertanyaan mengapa seseorang dapat kurus

Adaptasi somatis sangat banyak, mulai dari adaptasi pada fungsi tubuh yang sederhana hingga sesuatu yang di dalam. Mulai dari tidak mahir satu keahlian hingga kemudian beradaptasi akan suatu keahlian. Tentunya ada banyak teori psikologi dan biologi yang menjelaskan adaptasi keahlian yang dimiliki seorang manusia. Teori dalam psikologi belajar salah satunya, saya coba ambil satu teori dasar prilaku yang selaras dengan petuah dari orangtua kita. “bisa karena biasa”, saya rasa setiap orang pernah mendengar teori ini. Saya tidak tau dengan anda, tapi saya rasa kata ini sangat relevan terutama untuk saya pribadi.

Jika boleh jujur, selama saya hidup saya tidak pernah secara spesifik tau apa yang dinamakan bakat. Ketika awal perkuliahan dalam sebuah mata kuliah bakat pernah menjadi bahan diskusi yang sangat rumit. Ada yang berangapan bahwa lingkungan adalah pembentuk bakat, ada yang beranggapan bakat itu dari gen semenjak lahir. Keduanya saya tidak tau yang mana yang benar dan bukan urusan saya juga memperdepatkan pernyataan orang lain yang mereka yakini berdasarkan teori. Jadi kita langsung saja mengambil contoh nyata, karena saya rasa contoh nyata adalah verifikasi yang terbaik. Anggaplah kedua teori itu benar, pernahkah kamu melihat orang yang sukses dari bakat yang dilatih ataukah pernahkah kamu melihat orang yang tiba-tiba mahir sesuatu tanpa dilatih. Saya mengenal beberapa orang dengan kedua tipe tersebut.

Teman saya yang saya jadikan pada contoh pertama adalah Rusditya, seorang sahabat saya dari kota nun jauh di larantuka. Jika kamu tidak tau larantuka itu dimana, Larantuka adalah salah satu kota di Nusa Tenggara Timur. Pertama kali dia datang di Bali untuk berkuliah di Sekolah Ilmu Teknologi Komputer di Kawasan Renon mengambil bidang Komputer saya ingat sekali dia belum dapat mengoprasikan microsof word, laptop bahkan emailpun tidak mampu. Bukan karena dia tidak pintar ataupun sterotipe lain orang timur yang mungkin kamu pikirkan tentang orang timur. Pada Sebuah desa bermana Larantuka, biaya untuk internet dengan kecepatan siput sekalipun sangat mahal. Harganya 16.000 per jam, bayangkan pada masa warnet dahulu di Bali harganya sudah 2000 hingga 3000 rupiah. Iya kamu benar, dia berkuliah komputer tanpa tau komputer sama sekali. Luar biasa sekali bukan ? saya ingat sekali mengajarkan dia dari cara membuat email dan hal-hal dasar lainnya. Itu menghabiskan waktu hingga beberapa jam di warnet. satu hal yang saya salut adalah dia sangat telaten, setiap hal dipelajarinya dengan perlahan sedikit demi sedikit dan tidak berlompat-lompat. Hal yang sebenarnya ingin saya juga tiru darinya jikalau bisa (sambil menutup tab browser lainnya hahaha). Meskipun sempat melewati masa sulit dalam studi dengan banyaknya tantangan dari seseorang yang baru mengenal teknologi akhirnya semua terselesaikan. Rusditya sekarang selangkah lagi menyelesaikan studi S2nya di bidang Informatika. Sebuah hal yang dimulai dari belajar membuat email.

Teman saya yang kedua yang saya jadikan contoh sebagai seseorang yang keahliannya seoalah dari lahir bernama Nago, sebuah makhluk yang juga menulis di blog ini. Secara spesifik sahabat saya Nago dapat saya katakan sangat pintar secara alami. Dia sangat pintar mengambil keputusan-keputusan penting disaat terbatas dan tetap tenang. Karena dia rajin meditasi anggap saja ini dari kebiasaannya bermeditasi yang kita kesampingkan dahulu. karena dia sering duduk disebelah saya saat kuliah, saya jadi tau sekali apa yang dia kerjakan selama kuliah. Setiap kuliah catatannya tidak banyak, dia dan saya sangat rajin untuk ngobrol hahaha dan dia sangat hobi untuk menggambar dan memainkan pulpen di tangan. saya tidak tau apakah kamu memiliki teman seperti ini juga, yang ketika ada kuis tiba-tiba saya tidak tau mengapa dia selalu bisa menjawabnya. Hasilnya sudah jelas terlihat dari indeks prilaku komulatif yang dia torehkan dengan nilai yang sangat memuaskan. Terlepas dari dia belajar, kursus, meditasi atau apa saya cuma fokus pada sebuah nilai kuis tiba-tiba yang ketika itu tiba-tiba ada. Nilainya nyaris sempurna 90, sebuah nilai yang menurut saya pribadi sangat bagus karena saya ingat sekali saat itu kami sedang bermain game hp. Jangan ditanya saya bagaimana ya, berbanding terbalik jauh hasilnya. Saya mendapatkan nilai 58 seinget saya itu di semester dua. Ketika orang lain sudah berbicara cita-cita pada semester itu, saya justru seperti yakin saya salah jurusan hahaha

Berarti kedua teori tersebut anggaplah benar adanya, meskipun kita tidak bisa generalisasikan pada setiap orang tentu saja, karena ini hanyalah data lapangan yang mungkin dipengaruhi oleh banyak penyebab. Satu pola yang menurut saya unik adalah mungkin tidak adapabila keduanya menyebabkan hal tersebut. Jawabannya sangat mungkin dan beberapa teori juga menjelaskan hal tersebut. Pisau tajam apabila diasah akan menjadi semakin tajam, pisau tumpul apabila diasah akan menjadi tajam. Begitu analogi yang pernah saya dengar, tentang sebuah gen yang apabila tidak terstimulus ya tidak akan berkembang. Saya mendengarkan teori tersebut di Seminar Wihara Bapak Merta Ada, tentang empat hal yang membuat anak sukses. Saya lupa apa saja kala itu, yang pasti ada empat faktor dan faktor keempat adalah karma baik.

verifikasi yang baik adalah contoh maka saya akan menggunakan contoh teman saya lainnya yaitu Indra Surya, sahabat saya lainnya. Indeks Prestasinya jangan ditanya sangat memuaskan sama seperti Nago. Satu hal yang istimewa menurut saya adalah dia sangat rajin mencatat. Hal ini bukan bermaksud untuk membandingkan siapapun, karena setiap orang berbeda dan ini hanyalah berdasarkan fakta observasi yang saya lakukan. Sangat amat rajin dalam mencatat, meskipun saya sering ganggu untuk ngobrol dia sangat konsen dalam mencatat ketika perkuliahan.

saya pernah mengikuti seminar Bank BNI di udayana, saat itu Rosiansilalahi pernah berbagi ilmunya bahwa dengan mencatat katanya ada 35% persen yang akan kita ingat. lebih besar dari melihat dan mendengar saja. Saya lupa beliau mengutip dari mana, karena wartawan senior dan saya yakin setiap teorinya diambil dengan kredibel anggaplah hal tersebut benar. Ketelatenan mencatat anggaplah satu point untuk yang dilatih.

Sedangkan secara bakat alami kita ambillah contoh dari kuis kembali, pada suatu waktu ketika kuliah komunikasi pukul 12.15 kami mengadakan kuis, kala itu saya jujur saja tidak dapat menjawab. Kami duduk di bangku panjang ruang histologi pada baris ke tiga dari depat. kemudian gempa terjadi, saya ingat betul saya duduk bertiga. Soalnya saya ingat betul tentang komunikasi top down dan bottom up, saat gempa terjadi otomatis kan kami turun berlari. Sedikit terjatuh dan nyangkut juga di kursi saya kala itu hahaha. Lucunya kertas jawaban masih saya bawa hingga ke lantai bawah, saya ingat sekali bukannya lari saya malah mengerjakan soal tersebut bersama sahabat saya lainnya bernama Dhika. saya ingat sekali kita saling mencontek dan indra sudah hampir selesai. Untuk sebuah kuis tiba-tiba menurut saya gen sangat mempengaruhi. Seingat saya Indra dan Nago memiliki IQ superior, tapi karena saya lupa angkanya anggaplah kuis sebagai contoh impementasi dari kemampuan otak secara tiba-tiba.

Jika kedua teori tersebut anggaplah benar, dua hal yang dapat terjadi dalam beradaptasi. Ambilah contoh beradaptasi dalam bakat tadi sebagai salah satu contoh maka kemampuan beradaptasi, dipengaruhi oleh dua hal yaitu kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan apa yang ada dalam genesis dan somatis. Genesis yang baik pada bidang yang sesuai dengan adaptasi akan sangat membantu seseorang untuk lebih cepat beradaptasi dengan lingkungannya begitu juga somatis yang menyesuaikan dengan keahlian lingkungan tempat individu berada. Pisau yang dasarnya tajam hanya perlu sedikit asahan untuk semakin tajam dan pisau tumbul bisa menjadi tajam dengan diasah’

Intinya adalah semua pisau bisa tajam apabila diasah, apabila mampu beradaptasi dengan lingkungannya

Pertanyaannya adalah apabila pada seri pertama ini berbicara tentang adaptasi dalam hal yang positif yaitu bakat keahlian, bagaimana apabila adaptasi dalam hal negatif. Tunggu di Seri selanjutnya :

  • Tulisan seri seri ini hanyalah hasil observasi dan wawancara, beberapa seri sebenarnya ditulis dalam rangka ilmiah namun akan dibahasan dengan bahasa santai disini karena saya merasa saya banyak bertemu dengan cerita orang-orang hebat yang sangat saya apabila tidak diceritakan.
  • Tulisan ini sesuka saya dan semau saya, meskipun tidak nyambung dan tidak ilmiah. ini hanya ditulis berdasarkan data dan bukan dalam rangka penyangkalan teori apapun dalam  tulisan ini
  • Saya hanya ingin mengeluarkan cerita keresahan saya tentang psikologi dalam bahasa sehari-hari, dalam perspektif saya.

Salam
EKO
Pussychology’s Student

Leave a Comment

Your email address will not be published.