Siapakah Aku yang Sejati

Siapakah aku yang sebenarnya ? pertanyaan ini mungkin pernah menggeluti pikiran kita semua. Apakah aku adalah fisikku, aku adalah identitasku, aku adalah kepribadianku atau apakah aku. Ketika kita dihadapi pertanyaan maka otomatis otak kita akan menjawab. Tidak jarang pertanyaan sederhana seperti tadipun memiliki berbagai macam kemungkinan yang bisa tersampaikan. Meski terkadang kita bingung dan terjebak akan jawabku ini benar atau salah ya.

Tidak percaya? coba saja saat ini tulisan definisi tentang siapakah aku? banyak sekali bukan. Bahkan hal-hal aib yang kurang baik juga muncul meski tidak kita sampaikan dalam tulisan siapakah aku barusan.

Ada yang menjawab aku adalah namaku, namaku adalah si Gatot, si Dimas Taat, si Mario, dstnya.

Ada yang menjawab kepribadian dan sikap kita, saya adalah orang yang disiplin akan waktu, rendah hati dstnya.

Ada pula yang menjawab identitas sosial, aku berkasta A , beragama B, berkeluarga darah biru ningrat.

Tidak ada yang benar tidak ada yang salah, jawaban apapun yang teman-teman jawab itulah definisi teman-teman tentang diri anda sendiri. Tidak ada yang salah dan tidak ada yang menilai juga, jadi cobalah renungkan sendiri dengan jujur segala jawabannya.

Terkadang mungkin muncul jawaban hal-hal negatif yang tidak kita akui ada di dalam diri kita, terkadang juga kita tidak mau mengakui hal-hal positif di dalam kita. Ini antara diri kita sendiri, jadi tuliskanlah semua, pikirkanlah semua tentang siapa aku.

Sampai dititik ini, kita baru membahas 2 ciri siapakah aku yang sering kita jawab, yaitu ciri yang tampak dan ciri yang tidak tampak menyelimuti kita.

Ada sebuah aliran dalam psikologi modern saat ini bernama psikologi transpersonal, sebuah aliran yang disebut sebagai mazhab keempat dalam psikologi. Aliran psikologi ini mempelajari bahwa diri bukan hanya tentang ciri yang tampak dan tak nampak dalam badan saja, namun  ada sesuatu yang lebih besar diluar diri dan tubuh kita yang melebihi definisi kita tadi tentang diri kita.

Sebagai orang timur kita menyebutnya dengan ketuhanan itulah hal yang psikologi transpersonal coba kaji. Tentang sesuatu yang besar diatas diri kita yang apabila di timur pada saat ini sering kita pahami sebagai tuhan. Apabila siapakah aku dipertanyakan pada level kesadaran yang ini maka jawabannya menurut psikologi transpersonal adalah bukanlah tentang siapa lagi, bukanlah tentang benar dan salah lagi.

Namun  apa sebenarnya tujuan kita hidup di dunia? Tidak jarang kita sendiri belum tau apa tujuan dari kita hidup, termasuk diri penulispun demikian. Apa tujuan kita sekolah, apa tujuan kita berpacaran, apa tujuan kita kerja, apa tujuan kita beribadah ?

Lalu siapakah aku ?

Mungkin diawal teman-teman juga mengalami seperti yang saya katakan. Sangat sulit sekali untuk menjawab pertanyaan siapakah aku. Ada hal yang aib yang cenderung kita sembunyikan dan kadang ada hal positif yang tidak kita akui ketika menjawab siapa aku tersebut. Dalam psikologi transpersonal salah satu aspek yang penting adalah tentang memaknai. Terlepas dari baik buruk yang telah kita jalani saat ini dan sebelumnya. Selama kita masih hidup sebagai manusia kita pasti pernah merasakan dualitas hidup yang benar dan salah. Pernah membuat kesalahan, pernah punya sifat yang kita nilai buruk dan banyak juga memiliki sifat baik.

Tidak ada baik dan buruk, semuanya adalah proses begitulah psikologi transpersonal menyebutnya. Dalam setiap peristiwa yang kita alami seburuk apapun itu adalah hak kita untuk memiliki pemaknaan yang tepat untuk peristiwa. Pemaknaan yang tepat bahwa ada suatu esensi antara kita dan sang sumber yang pada dasarnya mengarahkan kita pada tujuan…semakin dekat dengannya.

Ketika mengalami peristiwa negatif kita bisa ambil maknanya, ketika kita mendapatkan hal positif kita juga ambil maknanya. Sebagai orang timur mungkin hal ini biasa kita dengar, bersyukurlah ketika mendapatkan rejeki, menyebut namanya dan mohon ampunan ketika membuat kesalahaan. Selama kita lahir sebagai manusia keduanya pasti akan saling mengisi, dan pemaknaan kita tentang sang sumber adalah kunci untuk semakin dekat denganNya.

Esensinya diri menurut psikologi transpersonal kita pada dasarnya adalah satu dengan sang pencipta kita. Tuhan dekat sedekat nadi pada leher kita. Bagaikan matahari dengan sinarnya. Tidak terpisah.

Tapi sejauh mana kita sering merasa berjarak jauh darinya? sejauh mana kita melakukan dosa padahal Ia selalu melihat kita dimanapun kita melakukannya?

Di dalam diri kita, dalam hati kita ada cahaya sinar tuhan. Kita selalu memiliki kesempatan untuk bangkit dari sebuah jalan yang tidak tepat. Jalan yang tidak tepatpun bukan berarti tidak baik, jalan itulah yang menuntun kita untuk menjadi berkesadaran tentang hidup ini.

Kita dihadapkan masuk dalam sebuah peristwa untuk menjadikan kesempatan belajar menuju dan menyadari kedekatan dengan sang sumber pencipta

Ketika siapakah aku ditanya dalam pemahaman ini, maka jawabannya bukan lagi tentang diri kita tapi tentang kita adalah titisan kasih tuhan di dunia yang sedang berjalan untuk semakin dekat dengan sang sumber dengan caranya masing-masing.
Semakin kita berkesadaran bahwa tuhan dekat dengan kita maka semakin kita yakin bahwa tidak ada satupun yang berat untuk kita hadapi di dunia ini. Semua sempurna atas izinnya, dan realitas kehidupan yang ada adalah proses untuk semakin yakin dengan keadaanNya

Sangat mendalam, dan mengingatkan kita yang sering kali lupa. Lupa akan kita hadir karena sang sumber yang sama. Bukan saling mengotak-ngotakkan.
Kamu hitam saya putih, kamu gemuk saya kurus, dia jahat saya baik,
namun untuk bersama-sama menyebarkan sinarnya, untuk hidup bahagia di pos sementaraNya 🙂

Lalu Siapakah aku menurut anda ?

NB : Ini adalah pengalaman pribadi salah satu penulis di web balimentari.com. Sebuah pemahaman akan pemaknaan yang tentu akan bertumbuh selalu dalam kehidupan. Ini bukan benar dan salah, hanya refleksi pribadi penulis tentang psikologi transpersonal dan proses mendekatkan dengan sang sumber pencipta. Proses perjalanan spiritual yang dihadapi dengan proses kehidupan yang dijalani.

Leave a Comment

Your email address will not be published.