Mengapa remaja penting untuk mengikuti kegiatan A Lovely Lunch

Mengapa remaja penting untuk mengikuti kegiatan A Lovely Lunch

Masa remaja merupakan periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa yang melibatkan perubahan biologis, kognitif dan sosio-emosional (Santrock, 2007). Tujuan pokok remaja adalah mempersiapkan diri memasuki masa dewasa (Larson dkk dalam Santrock, 2007). Dibutuhkan kondisi kesehatan yang baik untuk melalui masa remaja menuju masa dewasa.

Kesehatan menurut WHO (1948) adalah keadaan lengkap secara fisik, sejahtera secara mental dan sosial, bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan. Definisi ini serupa dengan konsep kesehatan holistik yang beranggapan bahwa sehat bukan berarti sakit dan penyakit tidak mampir, tetapi dapat hidup secara utuh dan seoptimal mungkin dalam kondisi dan keterbatasan yang dihadapi. Pendekatan ini juga memandang bahwa tubuh, pikiran jiwa atau mind, body and soul adalah satu kesatuan utuh yang memilikii interkoneksi dan saling mempengaruhi kesehatan seseorang (Wang, 2017). Emosi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan. Emosi yang tidak stabil seperti ketakutan, kecemasan, ataupun marah dapat memengaruhi bagian organ tubuh (Wang, 2007).

salah satu materi di Lovely Lunch Kisara Bali
salah satu materi di Lovely Lunch Kisara Bali

Santrock (2007) dalam bukunya mengungkapkan bahwa suasana hati remaja sering berubah. Remaja melaporkan adanya emosi yang lebih ekstrem dan berlalu cepat dibandingkan orangtua. Selain pengaruh hormonal, faktor pengalaman lingkungan memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap emosi negatif remaja. Pengalaman lingkungan yang dialami remaja tentu dapat menjadi luka emosi masa lalu. Luka emosi seperti perasaan marah, sedih, dan masalah hubungan adalah faktor yang dapat menganggu kesehatan emosi (Wang, 2017).

Faktanya, kasus faktor yang dapat mengganggu kesehatan emosi tersebut telah dilaporkan oleh layanan konseling KISARA. Remaja yang mengakses ke layanan konseling remaja sepanjang Januari hingga April 2018 mengakui merasakan emosi negatif. Sebanyak 9 orang remaja melaporkan dirinya mengalami emosi negatif seperti perasaan penyesalan, depresi, kebingungan terkait masalah seksualitas, kesepian, sulit percaya diri sendiri maupun orang lain serta permasalahan berkomunikasi dengan orang tua.

Kak Nago Tejena Berbagi di Kisara Bali

Permasalahan tersebut dapat muncul karena remaja tidak dapat mengelola emosinya secara efektif. Lebih lanjut, permasalahan tersebut dapat memicu munculnya berbagai masalah seperti kesulitan akademis, penyalahgunaan obat, kenakalan remaja atau gangguan makan (Saarni, dalam Santrock. 2007).  Salah satu permasalah remaja di Bali yang belum selesai hingga saat ini adalah permasalahan kesehatan seksual reproduksi. Penelitian KISARA mengenai Seksualitas (Edi, 2017) bahkan menemukan bahwa walaupun 55,58% partisipan mengetahui pengetahuan yang baik terkait HIV-AIDS maupun infeksi menular seksual sebanyak  43,48% remaja yang berpartisipasi telah melakukan hubungan seksual vaginal tanpa kondom. Yang mana hal tersebut dapat memicu terjadinya infeksi menular seksual seperti HIV-AIDS. Hal ini menunjukkan ketimpangan antara pengetahuan dan perilaku seksual yang terjadi. Hubungan seksual sering terjadi dengan alasan bahwa remaja ingin dicintai, pasangan yang mendesak, tidak ingin olok-olok dan beranggapan diri sudah siap (Kaiser Family Foundation, 1996). Tiga dari empat faktor merupakan hal yang dapat menyebabkan stres. Stres sendiri sebelumnya didahului oleh produksi hormon yang tentu didahului oleh adanya kemunculan emosi yang tidak stabil. Siklus emosi ini sering tidak disadari oleh remaja sehingga memunculkan masalah seperti yang telah disebutkan.

 

Padahal individu pada masa remaja umumnya cenderung lebih menyadari siklus emosionalnya seperti perasaan bersalah karena marah. Kesadaran yang baru ini dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam mengatasi emosi-emosinya. Remaja juga lebih terampil dalam menampilkan emosi-emosinya ke orang lain. Mereka juga lebih memahami bahwa kemampuan mengkomunikasikan emosinya secara konstruktif dapat meningkatkan kualitas relasi (Saarni, dalam Santrock 2007). Kemampuan remaja ini dapat mempersiapkan mereka untuk mengatasi stress dan fluktuasi emosional secara lebih efektif. Akan tetapi tidak banyak remaja dapat mengelola emosinya secara efektif (Santrock, 2007) sehingga masalah emosional tetap terjadi pada masa remaja.

Untuk dapat membantu emosi remaja dan membuat sehat kembali secara emosi diperlukan pengembangan kompetensi emosi dan dukungan kesehatan emosi. Kompetensi dan dukungan kesehatan emosi yang diperlukan diantaranya kesadaran bahwa ekspresi emosi memainkan peran penting dalam relasi, kemampuan mengelola perasaan negatif dengan cepat melepaskan yang telah berlalu, mampu berdamai dan mensyukuri peristiwa lalu, memahami bahwa kondisi emosional di dalam diri tidak berkaitan dengan ekspresi keluar serta keinginan dan kemampuan memaknai ulang sebuah pengalaman (Saarni dalam Santrock, 2007;Wang, 2017).  Selain itu, diskusi dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan remaja terkait emosi maupun kesehatan reproduksinya.

%d bloggers like this: